Oke, ini cuma pemikiran ga penting dari some random passerby yang juga ga jelas sih, tapi kalau sekiranya tulisan ini berguna, jangan lupa kasih cendol gan XD

Jadi, mungkin yang baca ini pada bingung, sebenarnya apa sih yang namanya Modern Visual Culture itu? Kalo dijitak bisa sakit ga sih? Atau kalo dijilat bisa berdarah ga sih?? Oke ga penting.

Yah, mungkin awa masih bingung masalah pendefinisian Modern Visual Culture, tapi akan awa coba jelaskan definisi menurut pendapat awa sendiri di sini O_o. Gomen kalo tl;dr, tapi percayalah ini suatu hal yang berguna dan menambah wawasan.

Kita mulai dari segi bahasa. Kita terjemahkan Modern Visual Culture menjadi bahasa manusia, alias Bahasa Indonesia. (Loh???)

Visual, adalah sesuatu yang dapat dinikmati oleh salah satu panca indera makhluk hidup, yaitu mata. Anda bisa melihat orang yang sedang berbicara dengan Anda, maka orang itu adalah sesuatu yang visual. Namun Anda tidak bisa melihat gelombang bunyi yang dikeluarkan oleh orang tersebut bukan? Itu berarti suara orang tersebut bukanlah sesuatu yang visual.

Modern, menurut bahasa tukang baso, adalah berteknologi. Lah mesin uap itu kan berteknologi tinggi tuh tapi kenapa tidak disebut modern lagi? Memang orang jaman sekarang menyebut mesin uap itu sebagai kuno, tapi bagaimana menurut orang-orang saat James Watt masih berada di dunia? Mereka pasti menyebutnya sebagai “modern”. Jadi, apa sebenarnya definisi “modern” itu? Modern, menurut KBBI, adalah “sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman”. Ini berarti, sesuatu disebut modern, apabila sesuai dengan zaman (atau boleh juga kita sebut ‘tren’ zaman sekarang). Kita bisa menyebut telepon genggam sebagai sesuatu yang “modern”, karena orang-orang zaman sekarang menggunakan telepon genggam untuk berkomunikasi. Kemudian kita pun bisa menyebut telegram sebagai suatu yang “kuno”, karena sudah tidak ada lagi yang menggunakan telegram dikarenakan tuntutan komunikasi jarak jauh yang semakin tidak terbatas

Kata yang tidak kalah penting, yaitu culture. Jika dibahasaindonesiakan, apakah arti dari “culture”?budaya atau kebudayaan? Mari kita tanyakan Abah KBBI soal ini. Menurut Abah KBBI, “budaya” adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Budaya bisa juga bisa didefinisikan sebagai sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Kebiasaan mencontek yang terdapat di kalangan pelajar Indonesia, misalnya, bisa didefinisikan sebagai “budaya mencontek”. Sedangkan “kebudayaan” adalah “hasil kegiatan dan penciptaan batin manusia, seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat”.
Nah, setelah ditambahkan imbuhan ke-an, definisinya menjadi lain. Sebuah “culture” bukanlah sebuah kebiasaan atau adat istiadat, tapi hasil dari suatu kegiatan manusia. Singkatnya, “culture” bukan “budaya”, tapi “kebudayaan”

Jadi, apabila kita menggabungkan ketiga pendekatan etimologis di atas, “Modern Visual Culture”, yang diterjemahkan sebagai “kebudayaan” visual modern adalah suatu hasil kegiatan dan penciptaan manusia yang dapat dilihat, serta sesuai dengan perkembangan zaman. Tapi kebanyakan orang nampaknya sudah terbiasa menyebutnya sebagai “Budaya Visual Modern”. Yah, mungkin ga penting tapi bermakna D:

Yah, mungkin definisi berdasarkan dengan cara Lolw00t (pendekatan etimologis) itu cukup, tapi mari kita tengok pandangan seorang ahli.

Sebelum mengacu pada definisi tentang kebudayaan visual modern, mari kita telusuri sebenarnya apa sih definisi dari “Visual Culture” sendiri.

Nicholas Mirzoeff, dalam bukunya The Visual Culture Reader menyebutkan:

Visual culture is concerned with visual events in which information, meaning, or pleasure is sought by the consumer in an interface with visual technology. By visual technology, I mean any form of apparatus designed either to be looked at or to enhance natural vision, from oil painting to television and the Internet
(Mirzoeff 2002: 3)

Secara khusus, kebudayaan visual adalah sesuatu untuk mengungkapkan kejadian atau peristiwa ke dalam bentuk visual. Misalnya, Raden Saleh melihat peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro, kemudian menggambarkannya dalam bentuk lukisan, sehingga peristiwa tersebut bisa dirasakan oleh siapapun yang melihat lukisan itu.

Namun, kebudayaan visual bukan hanya sebatas menangkap kejadian nyata ke dalam media visual. Menurutnya, salah satu fitur dari kebudayaan visual adalah ‘visualisasi dari suatu yang tidak visual’. Kebudayaan visual tidak bergantung pada gambar semata, namun kecenderungan untuk menggambarkan atau memvisualisasikan keberadaan (Mirzoeff 2002: 6). Singkatnya, kebudayaan visual adalah suatu yang dapat “memvisualisasikan” sesuatu, baik itu sesuatu yang tampak maupun tidak tampak.

Lalu, menurut definisi itu, apa saja contoh dari “Kebudayaan Visual” itu sendiri? Jika melihat definisi tersebut, maka sebenarnya banyak sekali contoh dari “Kebudayaan Visual”. Misalnya, relief di candi Borobudur. Relief-relief itu mungkin jika dilihat sekilas hanya gambar-gambar biasa. Namun sebenarnya, relief tersebut berusaha untuk “memvisualisasikan” cerita tentang Sudhana dan Manohara.

Karya-karya seni rupa lainnya, seperti lukisan, patung, film, anime, manga, game, dan lainnya juga termasuk dalam kebudayaan visual. Sebuah film, animasi, anime, ataupun manga, misalnya, merupakan “visualisasi” dari sebuah cerita yang dipikirkan oleh sang pengarang cerita. Sebuah video game, meskipun dipandang sebelah mata oleh orang awam sebagai alat untuk senang-senang, sebenarnya merupakan “visualisasi” dari kejadian-kejadian dalam game itu sendiri. Misalnya, game Civilizations memiliki kemampuan untuk “memvisualisasikan” bagaimana perkembangan peradaban manusia dari zaman kuno hingga era informasi.

Namun, ada pula yang dicap sebagai “Bukan Kebudayaan Visual” tapi sebenarnya merupakan kebudayaan visual. Itu adalah grafik yang terdapat di osiloskop. Grafik yang ditampilkan pada osiloskop “memvisualisasikan” sinyal arus listrik, sehingga mahasiswa, teknisi, ataupun ilmuwan bisa menganalisis suatu sinyal listrik untuk dipelajari dan diteliti. Grafik osiloskop tersebut merupakan suatu kebudayaan visual modern.

Artist's Impression about Oscilloscope

Satu lagi yang dicap bukan sebagai kebudayaan visual namun sebenarnya merupakan kebudayaan visual adalah Jam. Sebuah jam memiliki kemampuan untuk “memvisualisasikan” waktu, yang tidak bisa dilihat, ataupun dibayangkan oleh manusia. Dengan melihat “visualisasi” waktu dari sebuah jam, kita dapat mengetahui waktu sekarang, sehingga kita bisa beraktivitas tepat pada waktunya. Jam, juga merupakan suatu kebudayaan visual modern.

Gambaran seorang seniman tentang jam digital

Kesimpulan

Visual culture, atau kebudayaan visual adalah suatu yang dapat “memvisualisasikan” sesuatu, baik itu sesuatu yang tampak maupun tidak tampak. Kebudayaan visual tidak hanya sesuatu yang bisa dinikmati, tapi juga bisa digunakan. Dan melihat definisi tentang “Visual Culture” pastilah Anda sekalian menangkap apa maksud dari “Modern Visual Culture”, yaitu suatu bentuk “Visual Culture” yang sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Hubungan Kebudayaan Visual Modern dengan Genshiken

Nah, khusus anggota Genshiken nih. Menurut kalian, setelah melihat definisi tersebut, seluas apakah cakupan kajian dari suatu “Kebudayaan Visual Modern”? Suatu kebudayaan visual modern tidak hanya sebatas Anime, Manga, ataupun Game. Suatu kebudayaan visual modern tidak hanya sebatas karya seni rupa. Segala hal yang merupakan ‘visualisasi’, adalah suatu kebudayaan visual.

Bahkan, menurut saya, kehidupan sehari-hari kita, juga merupakan kebudayaan visual. Kehidupan sehari-hari kita adalah visualisasi dari segala kejadian yang terjadi di dunia ini. Sebagian kejadian tersebut, merupakan hasil kerja manusia, dengan kata lain kebudayaan manusia. Maka mungkin tidak salah juga apabila kebudayaan keseharian tersebut disebut sebagai kebudayaan visual.

Nah ini yang penting menurut saya. Genshiken, apabila ditetapkan sebagai “Kelompok Studi Budaya Visual Modern”, harus mendalami dan meneliti kebudayaan visual modern secara menyeluruh, termasuk hal-hal yang bukan merupakan sebuah karya seni. Namun apabila Genshiken adalah “Kelompok Studi ‘Seni’ Visual Modern”, mungkin cakupannya jadi lebih terspesialisasi… Sebagai staff Genshiken, kita perlu memahami, sebenarnya apa sih cakupan kajian kita. Apakah kita hanya mengkaji kebudayaan visual modern yang berupa seni saja, atau hanya membahas “visual culture” jepang saja, atau suatu hal yang lain…

Yah, itulah sekedar tulisan ga penting dari orang yang ga jelas XD
Mohon maaf apabila ada yang salah atau kurang berkenan,
Mudah-mudahan bisa diterima dengan baik dan menjadi inspirasi buat semuanya

Yudahbye O_o/
See you in the next post X3

Iklan

3 tanggapan untuk “Modern Visual Culture, bisa dimakan ga sih? :-\

  1. Solarx gan! ^^

    Pendekatan lolw00t yang bagus. Yah, walau definisi ‘Budaya Visual Modern’nya belum mendefinisikan ‘Genshiken’, tapi referensi yang bagus gan!

    Extra info won’t hurt. :3

  2. Info nya oke banget Shif..
    dan gue jadi tau kalo berita Manohara itu uda ada direlief candi Borobudur O.Ob
    ternyata..
    ckckck *gak penting banget lah gw*
    *kabur*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s